PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO


Senin, 26 Januari 2026

Catat, Ini Kadar Gula Darah Normal Berdasarkan Usia

Catat, Ini Kadar Gula Darah Normal Berdasarkan Usia

Senin, 26 Januari 2026

Kadar gula darah normal untuk orang tanpa diabetes usia berapapun adalah di bawah 100 mg/dL. Pada pengidap diabetes, kadar gula darah normal bisa bervariasi tergantung usia pengidapnya.


Menjaga kadar gula darah sangat penting agar kamu tidak mengidap diabetes. Penyakit yang dikenal juga dengan kencing manis tersebut ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang tinggi secara konsisten. 

Seiring waktu, diabetes bisa merusak tubuh kamu dan menyebabkan banyak masalah kesehatan lainnya. Tentunya, penting bagi kamu untuk mengetahui kadar gula darah.

Namun, ketika berbicara mengenai menjaga kadar gula darah, yang sering kali menjadi pertanyaan adalah berapa kadar gula darah yang normal? Hal itu sebenarnya tergantung banyak faktor, salah satunya usia. 

Kadar Gula Darah Normal pada Orang Tanpa Diabetes

Kadar gula darah bisa normal, tinggi, atau rendah, tergantung pada seberapa banyak glukosa yang kamu miliki dalam aliran darah. Glukosa adalah gula sederhana yang ada dalam aliran darah setiap saat. Kadar gula darah normal bisa diukur saat kamu berpuasa, makan, atau setelah makan.

Menurut American Diabetes Association (ADA) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), berikut ini kadar gula darah normal untuk orang tanpa diabetes:

1. Glukosa plasma puasa

Pengukuran gula darah ini dilakukan saat kamu sedang berpuasa, minimal selama 8 jam sejak terakhir  kali makan, seperti pada pagi hari.

Rekomendasi ADA untuk kadar glukosa plasma puasa adalah di bawah 100 mg/dL.

2. Setelah makan

Pengukuran gula darah ini dilakukan 2 jam setelah makan, atau 2 jam setelah minum minuman manis selama tes toleransi glukosa oral. Rekomendasi ADA: kadar glukosa darah di bawah 140 mg/dL.

3. A1C

Tes darah ini dilakukan terlepas dari kapan kamu makan. Pengukuran ini untuk menilai jumlah glukosa yang menempel pada hemoglobin (bagian dari sel darah merah) yang terakumulasi selama kurang lebih 3 bulan.

Rekomendasi dari CDC untuk perhitungan glukosa ini adalah kurang dari 5,7 persen. Namun, ada banyak faktor yang bisa memengaruhi kadar gula darahmu sepanjang hari, seperti:

  • Jenis makanan yang dikonsumsi, berapa banyak, dan kapan waktu mengonsumsinya.
  • Aktivitas fisik.
  • Obat-obatan.
  • Kondisi medis.
  • Usia.
  • Stres.
  • Dehidrasi.
  • Penyakit.
  • Periode menstruasi.
  • Alkohol.

Kadar gula darah yang normal bagi siapa saja, baik tanpa diabetes atau pradiabetes, tanpa memandang usia, di pagi hari harus kurang dari 100 mg/dL. Namun ingat, kadar tersebut bisa berfluktuasi sepanjang hari akibat dari faktor-faktor di atas.

Bagi mereka yang memiliki kadar gula tinggi atau mengidap diabetes, terkadang membutuhkan obat-obatan untuk mengelola kadar gula dalam darah. Mau tahu apa saja pilihan obatnya?

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kadar Gula Darah

Beberapa faktor dapat memengaruhi kadar gula darah seseorang, di antaranya:

  • Usia: Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk memproses gula darah dapat menurun.
  • Diet: Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan gula dapat meningkatkan kadar gula darah.
  • Aktivitas fisik: Kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan resistensi insulin, yang memengaruhi kadar gula darah.
  • Stres: Stres dapat memicu pelepasan hormon yang meningkatkan kadar gula darah.
  • Kondisi medis: Beberapa kondisi medis seperti infeksi atau penyakit pankreas dapat memengaruhi kadar gula darah.
  • Obat-obatan: Beberapa jenis obat, seperti steroid, dapat meningkatkan kadar gula darah.

Cara Memantau Gula Darah di Rumah

Memantau kadar gula darah di rumah dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengukur gula darah (glukometer). Berikut adalah langkah-langkahnya:

  1. Cuci tangan dengan sabun dan air hangat.
  2. Siapkan alat pengukur gula darah dan strip tes.
  3. Tusuk ujung jari dengan lancet (jarum kecil).
  4. Letakkan setetes darah pada strip tes.
  5. Masukkan strip tes ke dalam alat pengukur.
  6. Baca hasil pengukuran yang ditampilkan pada layar.



Sumber : halodoc.com

Sabtu, 24 Januari 2026

Jangan Panik, Ini Cara Mengatasi BAB Berdarah

Jangan Panik, Ini Cara Mengatasi BAB Berdarah

Sabtu, 24 Januari 2026

Cara mengatasi BAB berdarah akan bervariasi tergantung pada penyebabnya.


BAB berdarah adalah kondisi yang terjadi ketika keluar darah saat buang air besar (BAB). Kondisi ini memiliki tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari ringan, berat, hingga mengancam nyawa. 

Munculnya darah saat buang air besar tidak boleh kamu sepelekan. Sebab, kondisi ini bisa jadi tanda adanya pendarahan di saluran pencernaan. 

Meski begitu, BAB berdarah bisa kamu obati. Pengobatannya cukup bervariasi, tergantung dari penyebabnya. Yuk, ketahui sejumlah cara untuk mengatasi BAB berdarah berikut ini!

Apa Itu BAB Berdarah?

BAB berdarah adalah kondisi ketika darah terlihat pada tinja, tisu toilet, atau permukaan kloset setelah buang air besar. Kondisi ini dapat muncul dalam bentuk bercak kecil hingga perdarahan yang lebih banyak, tergantung penyebabnya.

Darah dapat berasal dari bagian mana pun di sepanjang saluran pencernaan—mulai dari esofagus, lambung, usus halus, usus besar, rektum, hingga anus. Karena panjangnya saluran pencernaan, warna darah bisa menjadi petunjuk penting:

  • Darah merah terang biasanya menandakan perdarahan di bagian bawah usus, seperti wasir atau fisura ani.
  • Darah gelap seperti marun atau gumpalan mengarah pada masalah di usus besar atau usus halus.
  • Feses berwarna hitam pekat seperti aspal (melena) menunjukkan perdarahan dari lambung atau usus bagian atas.

Meskipun beberapa penyebab BAB berdarah tergolong ringan, seperti wasir, kondisi ini tetap tidak boleh diabaikan. BAB berdarah bisa menjadi tanda peradangan, infeksi, polip, atau bahkan kanker usus besar.

Pemeriksaan medis sangat penting, terutama jika darah muncul berulang atau disertai keluhan lain seperti nyeri perut, penurunan berat badan, atau perubahan pola BAB.

Gejala BAB Berdarah yang Perlu Diperhatikan

Gejala BAB berdarah bervariasi, tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan perdarahan. Beberapa gejala yang mungkin muncul meliputi:

  • Darah merah terang pada tinja.
  • Tinja berwarna hitam pekat.
  • Nyeri perut.
  • Lemah dan pusing.
  • Anemia (kekurangan sel darah merah).

Cara Mengatasi BAB Berdarah 

Ada banyak faktor yang bisa memicu BAB berdarah, seperti wasir, firusa anus, penyakit radang usus, divertikulitis, tukak lambung, hingga infeksi menular seksual (IMS). 

Pengobatan BAB berdarah, biasanya disesuaikan dengan penyebabnya. Berikut ini beberapa cara mengatasi BAB berdarah yang perlu diketahui:

1. Pengobatan rumahan

Pengobatan rumahan bisa menjadi pertolongan pertama pada kasus BAB berdarah yang ringan, seperti:

Mandi dengan air hangat

Mandi air hangat direkomendasikan untuk mengatasi BAB berdarah yang disebabkan oleh wasir. Air hangat akan membantu meredakan rasa nyeri yang muncul saat kamu mengalami BAB berdarah. 

Menggunakan krim oles

BAB berdarah juga bisa diobati menggunakan krim oles tanpa resep atau dengan resep dokter. Krim oles umumnya mengandung senyawa yang efektif untuk mengurangi iritasi dan gatal pada dubur. 

Makan lebih banyak serat 

BAB berdarah salah satunya disebabkan oleh fisura ani, robekan kecil pada jaringan tipis yang menjadi pelapis anus. Kondisi ini umumnya terjadi karena sembelit, serta mengejan terlalu keras saat buang air besar. 

Untuk mengatasinya, kamu terlebih dahulu harus mengobati sembelit hingga sembuh. Nah, salah satu caranya bisa dengan mengonsumsi makanan kaya serta. 

Menjaga kebersihan dubur

Menjaga kebersihan dubur jadi salah satu cara untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat BAB berdarah. 

Kamu bisa menggunakan air dan sabun lembut untuk membersihkan area tersebut. Jangan lupa untuk menggosok dengan lembut dan tepuk-tepuk kulit hingga kering.

Selain itu, hindari menggaruk area dubur untuk menghindari risiko lecet dan iritasi kulit. 

Perawatan lainnya

Selain perawatan di atas, ada juga sejumlah cara rumahan yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi BAB berdarah.

Contohnya berolahraga secara teratur minimal 30 menit setiap hari, serta menghidrasi tubuh dengan minum minimal 2 liter air setiap harinya. 

2. Perawatan medis

Jika pengobatan BAB berdarah secara rumahan tidak berhasil, maka perawatan medis perlu dilakukan, seperti: 

Endoskopi

Jika penyebabnya wasir, BAB berdarah mungkin memerlukan perawatan yang lebih invasif. Dokter dapat menggunakan salah satu dari beberapa metode untuk menghentikan pendarahan akut.

Biasanya, dokter menggunakan endoskopi untuk menyuntikkan obat ke tempat pendarahan, merawat sumber pendarahan dengan arus listrik atau laser, atau memasang pita atau klip untuk menutup pembuluh darah.

Angiografi

Apabila endoskopi tidak dapat mengontrol pendarahan, dokter mungkin akan menggunakan angiografi untuk menyuntikkan obat ke dalam pembuluh darah guna mengontrol pendarahan.

Pembedahan 

Pembedahan biasanya direkomendasikan oleh dokter untuk mengangkat polip atau bagian usus besar yang rusak akibat kanker, divertikulitis, atau penyakit radang usus. 

Obat-obatan

  • Krim atau Salep Hemoroid. Untuk meredakan nyeri, gatal, dan peradangan akibat hemoroid.
  • Pelunak Tinja. Untuk mengatasi konstipasi dan membuat tinja lebih mudah dikeluarkan.
  • Antibiotik. Untuk mengatasi infeksi bakteri di saluran pencernaan.
  • Obat Anti-inflamasi. Untuk mengurangi peradangan pada penyakit radang usus (IBD).
  • Obat untuk Menghentikan Perdarahan. Dalam kasus perdarahan yang parah, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk menghentikan perdarahan.

Penyebab BAB Berdarah

Berikut berbagai penyebab BAB berdarah yang perlu kamu waspadai:

1. Ambeien (Hemoroid)

Ini adalah salah satu penyebab BAB berdarah yang paling umum. BAB keras dan berdarah bisa terjadi akibat pembuluh darah anus yang membengkak dan pecah karena mengejan terlalu kuat.

Darah biasanya berwarna merah terang dan muncul di tisu toilet atau di permukaan feses.

2. Fisura Ani

Luka atau robekan kecil pada anus, sering kali disebabkan oleh BAB keras dan berdarah. Rasa nyeri saat buang air besar biasanya menyertai kondisi ini.

3. Polip Usus atau Kanker Kolorektal

Jika BAB berdarah tapi tidak sakit, ini bisa menjadi tanda adanya polip usus atau kanker kolorektal.

Darah yang keluar biasanya berwarna gelap atau hitam, menandakan perdarahan dari bagian usus yang lebih tinggi.

4. Infeksi Saluran Pencernaan

Penyakit akibat bakteri, virus, atau parasit dapat menyebabkan diare berdarah. Gejala lain bisa berupa demam, sakit perut, dan dehidrasi.

5. Divertikulitis

Radang pada kantong kecil di dinding usus besar (divertikula) yang dapat menyebabkan perdarahan tiba-tiba tanpa rasa sakit.

6. Penyakit Radang Usus (Inflammatory Bowel Disease)

Termasuk kolitis ulseratif dan penyakit Crohn, yang menyebabkan peradangan kronis di usus dan dapat memicu BAB berdarah.

Faktor Risiko BAB Berdarah

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko kenapa BAB berdarah, di antaranya:

  • Kurangnya serat dalam makanan dapat menyebabkan BAB keras dan berdarah, karena tinja menjadi sulit dikeluarkan.
  • Mengejan terlalu keras karena sembelit dapat melukai dinding anus dan menyebabkan fisura ani atau hemoroid.
  • Risiko polip usus, kanker kolorektal, dan divertikulitis meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Duduk dalam waktu lama, terutama di toilet, dapat menyebabkan hemoroid, yang sering dikaitkan dengan BAB berdarah.
  • Memiliki anggota keluarga dengan penyakit radang usus atau kanker usus meningkatkan risiko mengalami BAB berdarah.
  • fObat pengencer darah (antikoagulan) dapat menyebabkan perdarahan di saluran pencernaan.

Diagnosis dan Pemeriksaan Buang Air Besar Berdarah

Dokter dapat melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menentukan penyebab perdarahan. 

Berikut beberapa metode yang digunakan dalam diagnosis:

1. Endoskopi

Endoskopi adalah prosedur diagnostik utama untuk mendeteksi sumber perdarahan dalam saluran pencernaan.

Ada beberapa jenis endoskopi yang digunakan berdasarkan lokasi perdarahan:

  • Kolonoskopi. Caranya dengan memasukkan selang fleksibel berkamera (endoskop) ke dalam anus untuk melihat adanya polip, tumor, radang, atau luka di dinding usus.
  • Gastroskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan endoskop melalui mulut untuk melihat ulkus lambung, gastritis, atau varises esofagus.
  • Sigmoidoskopi. Mirip dengan kolonoskopi, tetapi hanya memeriksa bagian bawah usus besar (rektum dan sigmoid).

2. Foto rontgen dengan kontras barium

Rontgen saluran pencernaan dengan barium enema digunakan untuk melihat kelainan struktural di dalam usus besar.

Pasien diberikan larutan barium sulfat melalui anus. Larutan ini akan melapisi dinding usus dan membuatnya lebih jelas terlihat dalam hasil rontgen.

Fungsi tindakan ini untuk mendeteksi tumor, penyempitan usus, atau divertikulosis.

3. Angiografi

Jika sumber perdarahan tidak ditemukan melalui endoskopi atau rontgen, dokter dapat menggunakan angiografi.

Prosedur ini melibatkan penyuntikan zat kontras ke pembuluh darah dan pencitraan menggunakan CT scan atau MRI untuk melihat adanya kelainan pembuluh darah, seperti malformasi arteri atau tumor vaskular.

4. Tes darah dan pemeriksaan feses

Tes darah lengkap bisa digunakan untuk melihat kemungkinan anemia akibat perdarahan.

Tes tinja (feses) bisa untuk mendeteksi adanya darah samar yang tidak terlihat secara kasat mata.

Tes infeksi bakteri atau parasit juga bisa dilakukan jika diduga ada infeksi pencernaan.

Kapan BAB Berdarah Menjadi Kondisi yang Mengkhawatirkan?

Sebenarnya, kapanpun kamu mengalami BAB berdarah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter, terutama jika:

  • Kamu tidak tahu mengapa BAB berdarah terjadi. Terkadang, pendarahan rektal berkaitan dengan kondisi yang tidak kamu ketahui.
  • BAB terasa menyakitkan. Nyeri selalu menjadi tanda bahwa, ada yang tidak beres pada tubuhmu dan memerlukan perhatikan medis.
  • Terasa berat atau sering terjadi. Pendarahan dalam jumlah banyak atau sering berpotensi menyebabkan kondisi yang lebih serius, termasuk anemia.
  • Sudah berlangsung selama seminggu atau lebih. Meskipun pendarahan mungkin tidak banyak atau tidak terasa sakit, BAB berdarah yang berlangsung selama beberapa waktu tetap memerlukan pengobatan.

Komplikasi BAB Berdarah

Jika BAB berdarah tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti:

  • Kehilangan darah dalam jumlah banyak atau terus-menerus dapat menyebabkan anemia, yang ditandai dengan kelelahan, pusing, dan kulit pucat. 
  • Luka pada anus akibat fisura ani atau hemoroid bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri, yang berpotensi menyebabkan infeksi.
  • BAB berdarah tapi tidak sakit apakah berbahaya? Ya, karena bisa menjadi tanda awal kanker kolorektal atau penyakit radang usus yang tidak terdeteksi sejak dini.
  • Penyakit seperti kolitis ulseratif yang tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan serius pada dinding usus, bahkan hingga robek (perforasi), yang dapat berakibat fatal.

BAB Berdarah Tanda Penyakit Apa?

Ada dua penyebab BAB berdarah berdasarkan lokasi perdarahannya, yaitu: 

1. Hematochezia

Hematochezia adalah kondisi munculnya darah segar pada tinja atau feses. Masalah kesehatan ini umumnya terjadi akibat perdarahan pada saluran cerna bagian bawah, seperti usus besar atau rektum. 

Pada kondisi ini, darah yang keluar bersama feses akan terlihat memerah dan masih segar. Sebab, perdarahan hematochezia biasanya terletak pada area yang tidak jauh dari dubur. 

Nah, ada beberapa kondisi yang dapat mengakibatkan hematochezia, yaitu:

  • Wasir (ambeien) atau hemoroid. Ini merupakan pembesaran atau pembengkakan yang terjadi pada dubur atau usus besar bagian akhir atau rektum.
  • Fisura ani. Merupakan luka yang muncul akibat adanya cedera anus. Adapun fisura ani biasanya terjadi karena sembelit dengan ukuran feses yang besar dan keras.
  • Divertikulitis. Merupakan kondisi peradangan atau infeksi pada kantong kecil tidak normal yang terbentuk pada saluran pencernaan (divertikula). 
  • Radang usus. Kondisi radang usus adalah istilah umum untuk menggambarkan gangguan yang melibatkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Adapun contoh radang usus adalah kolitis ulseratif atau penyakit Crohn. 
  • Polip usus besar. Merupakan gumpalan kecil yang terbentuk pada lapisan usus, terutama usus besar atau rektum. 
  • Kanker usus besar. Merupakan kondisi munculnya pertumbuhan tumor ganas pada usus besar yang merupakan bagian terakhir dari sistem pencernaan. 

2. Melena

Melena adalah kondisi yang terjadi akibat perdarahan pada saluran pencernaan bagian atas atau usus besar.

Ketika melena terjadi, darah pada feses akan terlihat hitam pekat dengan bau yang tidak sedap. Sebab, darah tersebut bercampur dengan enzim dan asam lambung.

Adapun sejumlah kondisi yang dapat memicu terjadinya melena adalah:

  • Varises esofagus. Kondisi ini terjadi akibat pembesaran abnormal pada vena yang terletak pada esofagus. Esofagus adalah penghubung antara bagian kerongkongan dan lambung. 
  • Esofagitis. Merupakan kondisi peradangan pada lapisan kerongkongan akibat penyakit GERD.
  • Tukak lambung. Tukak lambung adalah luka yang muncul pada dinding lambung akibat terkikisnya lapisan dinding lambung.
  • Sindrom Mallory-Weiss. Merupakan robekan pada jaringan area kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. 
  • Gastritis. Kondisi ketika lapisan lambung mengalami iritasi, peradangan atau pengikisan. 
  • Kanker lambung.  Merupakan pertumbuhan sel abnormal yang berawal pada perut.  

Itulah beberapa cara mengatasi BAB berdarah yang dapat menjadi pilihan.

Tips Mencegah BAB Berdarah

Mencegah BAB berdarah dapat dilakukan dengan menjaga kesehatan saluran cerna dan menghindari kebiasaan yang meningkatkan risiko iritasi atau perdarahan. Berikut langkah-langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan:

1. Konsumsi makanan tinggi serat

Serat membantu mempercepat pergerakan usus dan membuat feses lebih lunak, sehingga kamu tidak perlu mengejan saat BAB. Ini penting untuk mencegah wasir dan fisura ani.

Sumber serat yang baik antara lain buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan gandum utuh. Asupan serat harian ideal berkisar 25–30 gram.

2. Minum banyak air

Air berperan besar dalam menjaga konsistensi feses. Kekurangan cairan membuat feses keras dan kering, sehingga meningkatkan risiko BAB berdarah karena iritasi atau robekan pada anus. Usahakan minum 6–8 gelas per hari, atau lebih jika kamu banyak beraktivitas.

3. Olahraga teratur

Aktivitas fisik membantu memperbaiki pergerakan usus (motilitas), meningkatkan sirkulasi darah, dan mengurangi risiko sembelit.

Olahraga seperti berjalan kaki, yoga, dan bersepeda dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan secara keseluruhan.

4. Hindari mengejan saat buang air besar

Mengejan terlalu kuat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah anus dan rektum. Kebiasaan ini bisa menyebabkan atau memperparah wasir.

Untuk menghindarinya, jangan menunda dorongan BAB, gunakan posisi duduk yang lebih natural (misalnya dengan stool kecil di bawah kaki), dan pastikan feses tidak terlalu keras.

5. Lakukan pemeriksaan rutin

Jika kamu memiliki riwayat keluarga dengan polip atau kanker usus besar, penyakit radang usus, atau faktor risiko lain, pemeriksaan seperti kolonoskopi sangat dianjurkan.

Deteksi dini membantu mencegah perdarahan serius dan menemukan masalah sebelum berkembang lebih parah.



Sumber : halodoc.com