PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO

PT RADIO NUANSA FM BOJONEGORO


Selasa, 06 Januari 2026

Ini Cara Ampuh Menghilangkan Lemak di Punggung

Ini Cara Ampuh Menghilangkan Lemak di Punggung

Selasa, 06 Januari 2026

Menghilangkan lemak di punggung tidak bisa dilakukan secara instan, ada beberapa cara yang bisa ditempuh.


Lemak di punggung seringkali muncul tanpa disadari. Bagian ini jarang diperhatikan sampai terasa mengganggu penampilan.

Padahal, lemak punggung bisa menjadi tanda pola hidup yang perlu diperbaiki.

Lemak di punggung, termasuk di area punggung atas dan bawah, memang tergolong sulit dihilangkan. Namun, dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, kondisi ini bisa dikurangi secara bertahap dan aman.

Penyebab Muncul Lemak di Punggung

Lemak di punggung tidak muncul secara tiba-tiba. 

Ada beberapa faktor yang berperan dalam penumpukan lemak di area ini, baik dari kebiasaan sehari-hari maupun kondisi tubuh, seperti:

  • Konsumsi kalori berlebih, seperti makanan tinggi gula dan lemak jenuh
  • Duduk terlalu lama, jarang olahraga, dan minim aktivitas fisik
  • Postur tubuh yang buruk, seperti sering membungkuk, dapat membuat otot punggung melemah
  • Perubahan hormon, terutama pada wanita, dapat memengaruhi distribusi lemak tubuh
  • Stres berkepanjangan dan kurang tidur.

Cara Ampuh Menghilangkan Lemak di Punggung

Menghilangkan lemak di punggung tidak bisa dilakukan secara instan. 

Dibutuhkan kombinasi pola makan sehat, olahraga teratur, dan perubahan gaya hidup agar hasilnya optimal.

1. Atur pola makan seimbang

Langkah utama untuk mengurangi lemak punggung adalah mengatur pola makan. Fokus pada makanan bergizi seimbang, seperti:

  • Sayur dan buah yang kaya serat
  • Sumber protein tanpa lemak, seperti ikan, ayam tanpa kulit, telur, dan tahu
  • Karbohidrat kompleks, seperti nasi merah dan oatmeal
  • Lemak sehat dari alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun

Kurangi konsumsi makanan olahan, gorengan, dan minuman manis agar asupan kalori tetap terkontrol.

2. Lakukan defisit kalori secara sehat

Untuk menghilangkan lemak, tubuh perlu berada dalam kondisi defisit kalori, yaitu membakar lebih banyak energi dibandingkan yang masuk. 

Namun, defisit kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu kesehatan.

Hindari diet ekstrem karena justru dapat memperlambat metabolisme tubuh.

3. Rutin melakukan olahraga kardio

Olahraga kardio membantu membakar lemak tubuh secara keseluruhan, termasuk lemak di punggung. Beberapa jenis olahraga kardio yang bisa kamu lakukan antara lain:

  • Jalan cepat
  • Jogging
  • Bersepeda
  • Berenang
  • Lompat tali

Lakukan kardio minimal 150 menit per minggu untuk hasil yang optimal.

4. Latihan kekuatan untuk otot punggung

Selain kardio, latihan kekuatan penting untuk membentuk otot punggung agar terlihat lebih kencang. Latihan ini juga membantu meningkatkan pembakaran lemak.

Beberapa latihan yang bisa dicoba:

  • Row exercise
  • Lat pulldown
  • Push-up
  • Superman hold
  • Plank

Latihan kekuatan sebaiknya dilakukan 2–3 kali per minggu.

5. Perbaiki postur tubuh

Postur tubuh yang baik membantu otot punggung bekerja secara optimal. 

Biasakan duduk dan berdiri dengan posisi tegak, bahu rileks, dan punggung lurus.

Postur yang baik tidak hanya membuat punggung terlihat lebih ramping, tetapi juga mencegah nyeri otot.

6. Kelola stres dengan baik

Stres yang tidak terkelola dapat menghambat proses penurunan lemak. 

Luangkan waktu untuk relaksasi, seperti meditasi, yoga, atau melakukan hobi yang kamu sukai.

Mengelola stres membantu menyeimbangkan hormon dan mendukung proses pembakaran lemak.

7. Tidur yang Cukup

Tidur yang cukup berperan penting dalam mengatur hormon lapar dan metabolisme tubuh. 

Usahakan tidur 7–9 jam setiap malam agar proses penurunan lemak berjalan lebih efektif.

Kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan dan memperlambat pembakaran lemak.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Kamu sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika:

  • Lemak di punggung tidak berkurang meski sudah menjalani pola hidup sehat
  • Berat badan terus naik tanpa penyebab yang jelas
  • Terdapat keluhan lain, seperti nyeri punggung atau kelelahan berlebih
  • Kamu memiliki kondisi medis tertentu, seperti gangguan hormon atau metabolik


Sumber : halodoc.com

Senin, 05 Januari 2026

Ovulasi dan Masa Subur serta Kaitannya dengan Peluang Kehamilan

Ovulasi dan Masa Subur serta Kaitannya dengan Peluang Kehamilan

Senin, 05 Januari 2026

Ovulasi dan masa subur merupakan dua siklus yang saling berkaitan dengan peluang kehamilan seorang wanita.


Ovulasi adalah salah satu istilah medis yang bagi para wanita. Nah, istilah ini berkaitan erat dengan masa subur wanita. Sebab, masa subur wanita juga menjadi proses alami yang berkaitan dengan peluang kehamilan. 

Bagi kamu dan pasangan yang sedang merencanakan kehamilan atau justru ingin mencegahnya, kamu perlu memahami mengenai vulasi dan masa subur sekaligus kapan keduanya terjadi. 

Karena itu, tidak ada salahnya untuk memahami ovulasi dan masa subur serta kaitannya dengan peluang kehamilan lebih mendalam. 

Apa itu Ovulasi dan Masa Subur?

Ovulasi adalah fase dalam siklus menstruasi ketika ovarium melepaskan sel telur (ovum) yang sudah matang. Jadi bisa dikatakan, peristiwa pelepasan sel telur dari ovarium disebut ovulasi.

Setelah sel telur matang meninggalkan indung telur, sel telur tersebut bergerak ke saluran tuba falopi. 

Kemudian, sel telur matang aka menunggu terjadinya pembuahan oleh sperma.

Jika tidak terjadi pembuahan, sel telur dan lapisan dinding rahim akan luruh sehingga keluar sebagai darah menstruasi. Ovulasi rata-rata terjadi pada hari ke 14 dari 28 hari siklus menstruasi. 

Sebenarnya, masa subur seorang wanita erat kaitannya dengan ovulasi. Namun, perbedaannya terletak pada fakta bahwa masa subur yang berawal sekitar 5 hingga 7 hari sebelum terjadinya ovulasi. 

Sebagai gambaran, jika siklus menstruasi seorang wanita berlangsung selama 28 hari, biasanya masa subur dapat terjadi antara hari ke-10 hingga ke-14 dari siklus tersebut.

Memahami Proses Terjadinya Ovulasi

Ovulasi adalah salah satu tahap utama dalam siklus reproduksi wanita. Dalam proses ini, sebuah sel telur matang dilepaskan dari ovarium dan bergerak menuju tuba falopi. 

Proses ini biasanya terjadi sekali dalam satu siklus menstruasi, sekitar pertengahan siklus, atau pada hari ke-14 dari siklus yang berlangsung selama 28 hari. 

INi merupakan fase yang krusial untuk pembuahan, karena sel telur hanya dapat bertahan hidup selama 12 hingga 24 jam setelah dilepaskan.

Jika sperma berhasil membuahi sel telur dalam rentang waktu tersebut, kehamilan bisa terjadi.

Proses ini dipicu oleh peningkatan hormon luteinizing (LH), yang terjadi akibat perubahan kadar estrogen dalam tubuh.

Saat sel telur dilepaskan, lendir serviks juga berubah menjadi lebih encer dan licin, memudahkan sperma bergerak menuju sel telur.

Mengenal Tanda-Tanda Ovulasi

Tanda-tanda ovulasi dapat bervariasi antara wanita. Namun, ada beberapa tanda umum yang dapat muncul, seperti:

1. Perubahan cairan serviks

Cairan serviks yang menyerupai “putih telur” merupakan tanda seorang wanita mendekati masa ovulasi atau sedang mengalaminya. 

Setiap wanita bisa mengalami jenis cairan serviksnya masing-masing, dan tidak semua cairan serviks terlihat sama. 

Biasanya, proses ini terjadi pada hari ketika wanita memiliki jumlah cairan basah paling banyak. 

2. Perubahan suhu basal tubuh

Suhu basal tubuh adalah suhu tubuh terendah yang dapat dicapai saat istirahat.

Untuk mengetahui masa ovulasi dan masa subur, kamu dapat memeriksa suhu basal tubuh.

Bagi kebanyakan wanita, suhu basal tubuh cukup konsisten sebelum ovulasi.

Saat mendekati masa ovulasi, suhu basal ini mungkin mengalami sedikit penurunan. Namun, hal ini akan diikuti oleh peningkatan tajam setelah proses alami ini. 

Peningkatan suhu merupakan tanda bahwa proses ini baru saja terjadi.

Melacak suhu basal tubuh secara akurat selama beberapa bulan dapat membantu seorang wanita memperkirakan kapan siklus ini akan terjadi.

3. Perubahan posisi atau kekencangan serviks

Serviks mengalami banyak perubahan saat wanita berovulasi. Selama periode ini, leher rahim akan menjadi lunak, tinggi, terbuka, dan basah. 

Bagi sebagian besar wanita, diperlukan waktu untuk dapat membedakan seperti apa serviks biasanya dan perubahan yang terjadi selama siklus ini.

4. Perubahan lainnya 

Selain beberapa tanda sebelumnya, masih ada beberapa indikasi lainnya kalau seorang wanita mengalami ovulasi, meliputi: 

  • Perubahan sensasi di area panggul. Beberapa wanita melaporkan perasaan berat atau sensasi tertentu di daerah panggul selama ovulasi.
  • Peningkatan gairah seksual. Beberapa wanita merasa peningkatan gairah seksual selama ovulasi.
  • Perdarahan flek. Beberapa wanita mengalami perdarahan kecil atau flek selama ovulasi, yang dikenal sebagai perdarahan ovulasi.

Cara Mengetahui Masa Ovulasi

Jika kamu ingin melacak masa ovulasi, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Memeriksa siklus menstruasi

Mengetahui siklus menstruasi adalah langkah awal yang penting dalam melacak masa ovulasi. 

Jika siklus menstruasi teratur, yakni berlangsung selama 28 hari, ovulasi umumnya terjadi pada hari ke-14. 

Namun, setiap wanita bisa memiliki siklus yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk melacak siklus selama beberapa bulan untuk mendapatkan pola yang lebih akurat. 

Ovulasi biasanya terjadi sekitar 12 hingga 16 hari sebelum menstruasi berikutnya dimulai.

2. Metode perhitungan kalender

Nah, metode kalender adalah cara sederhana untuk memperkirakan masa subur dengan menghitung mundur dari tanggal menstruasi berikutnya. 

Metode ini lebih efektif untuk wanita yang memiliki siklus menstruasi yang teratur.

Caranya adalah dengan mencatat kapan menstruasi terakhir dimulai, kemudian menghitung mundur 14 hari untuk menemukan perkiraan hari ovulasi. 

Sebagai contoh, jika siklus menstruasi berlangsung selama 30 hari, maka ovulasi kemungkinan terjadi pada hari ke-16.

3. Menggunakan ovulation test kit

Untuk lebih akurat, kamu bisa menggunakan ovulation test kit.

Alat ini mendeteksi kadar hormon luteinizing (LH) dalam urine, yang umumnya meningkat tajam sekitar 24 hingga 36 jam sebelum ovulasi. 

Tes ini sangat membantu, terutama bagi wanita yang memiliki siklus tidak teratur. Sebab, alat ini bisa mendeteksi kapan tubuh sedang dalam masa subur.

Studi Terkait Prediksi Ovulasi

Studi yang dipublikasikan dalam Fertility and sterility, meneliti cara menentukan waktu yang paling tepat untuk mengambil sel telur dari ovarium wanita. 

Dengan menggabungkan berbagai metode seperti pemantauan hormon (LH, estradiol, dan progesteron), pemeriksaan ultrasonografi, dan pengambilan sampel cairan folikel, para peneliti menemukan bahwa waktu terbaik untuk mengambil sel telur adalah sekitar 28 jam setelah terjadi peningkatan kadar hormon LH. 

Menariknya, penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak selalu diperlukan peningkatan kadar LH yang sangat signifikan untuk memicu ovulasi.

Selain itu, kenaikan kadar hormon progesteron setelah peningkatan LH dapat menjadi indikator yang baik bahwa ovulasi telah terjadi. 

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang proses ovulasi dan dapat membantu para dokter menentukan waktu yang paling optimal untuk melakukan prosedur medis seperti bayi tabung, sehingga meningkatkan keberhasilannya.

Kaitan Ovulasi dengan Peluang Kehamilan

Bagi pasangan yang mencoba untuk hamil, mengetahui kapan ovulasi terjadi dapat membantu mereka menentukan waktu terbaik untuk berhubungan seksual dan meningkatkan peluang kehamilan. 

Sebaliknya, bagi mereka yang ingin mencegah kehamilan, hindari berhubungan seksual selama masa subur bisa menjadi metode kontrasepsi yang efektif.

Sebab, ketika ovulasi terjadi, sel telur bergerak melalui saluran tuba. Di tuba falopi, sel telur bertemu dengan sperma untuk pembuahan. Selama ovulasi, peluang terjadinya kehamilan meningkat secara signifikan. 

Sebab, masa subur biasanya terjadi beberapa hari sebelum ovulasi dan beberapa hari setelahnya.

Nah, sel sperma dapat bertahan dalam tubuh wanita selama beberapa hari sampai akhirnya memicu pembuahan sel telur.  

Jika terjadi pembuahan, setelah sekitar satu minggu, proses implantasi embrio akan dimulai.  Kemudian, tubuh akan melepaskan hormon estrogen dan progesteron.

Kedua hormon ini menyebabkan penebalan endometrium yang berperan penting dalam menyediakan nutrisi yang blastokista butuhkan untuk tumbuh sampai menjadi bayi. 

Bagi kamu yang sedang merencanakan kehamilan, ada sejumlah cara yang juga bisa meningkatkan peluangnya.

Kondisi Medis yang Dapat Memengaruhi Proses Ovulasi 

Beberapa kondisi medis dapat memengaruhi ovulasi, antara lain:

  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS). Kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang mengganggu ovulasi atau membuatnya tidak teratur.
  • Gangguan tiroid. Kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme) atau kurang aktif (hipotiroidisme) dapat mempengaruhi siklus ovulasi.
  • Stres. Tingkat stres yang tinggi bisa menghambat pelepasan hormon yang diperlukan untuk ovulasi.
  • Berat badan ekstrem. Baik kelebihan berat badan maupun terlalu kurus dapat memengaruhi produksi hormon dan menghentikan ovulasi.


Sumber : halodoc.com